BloggerrKu

Software Data Base XAMPP

Posted by Yohanes on Kamis, 28 April 2011 , under | komentar (1)





XAMPP adalah perangkat lunak bebas, yang mendukung banyak sistem operasi, merupakan kompilasi dari beberapa program. Fungsinya adalah sebagai server yang berdiri sendiri (localhost), yang terdiri atas program Apache HTTP Server, MySQL database, dan penerjemah bahasa yang ditulis dengan bahasa pemrograman PHP dan Perl. Nama XAMPP merupakan singkatan dari X (empat sistem operasi apapun), Apache, MySQL, PHP dan Perl. Program ini tersedia dalam GNU General Public License dan bebas, merupakan web server yang mudah digunakan yang dapat melayani tampilan halaman web yang dinamis. Untuk mendownload software ini bisa langsung klik disini

Mengenal bagian XAMPP yang biasa digunakan pada umumnya:
1. htdoc adalah folder untuk meletakkan berkas-berkas atau file yang akan kita jalankan, seperti PHP, HTML dan skrip lain.
2. phpMyAdmin merupakan bagian untuk mengelola basis data MySQL yang ada dikomputer. Untuk membukanya, buka browser lalu ketikkan alamat http://localhost/phpmyadmin/, maka akan muncul halaman phpMyAdmin.
3. Control Panel yang berfungsi untuk mengelola layanan (service) XAMPP. Seperti menghentikan (stop) layanan, ataupun memulai (start).




The biggest Airplane

Posted by Yohanes on Rabu, 27 April 2011 , under | komentar (0)



Antonov An-225, pesawat buatan Uni Soviet tersebut, mampu tinggal landas dengan berat total (termasuk bobot pesawat) hingga 600.000 kg. Sejauh ini tidak ada pesawat terbang lain yang mampu terbang dengan beban sebesar itu. Keunggulan ini melengkapi kelebihan ukuran atau dimensi geometri badan pesawat An-225, sekaligus mengukuhkannya sebagai pesawat terbesar yang masih beroperasi. Untuk perbandingan Airbus A380 (pesawat angkut penumpang terbesar saat ini) dengan MTOW (maximum take-off weight atau berat maksimum saat tinggal landas) sebesar 560.000 kg

Besarnya ukuran dan daya angkut An-225 merupakan implementasi misi awal pembuatan pesawat yang berjuluk “Mriya” (bahasa Ukraina yang berarti inspirasi) tersebut. An-225 dirancang untuk menjadi pesawat peluncur pesawat ruang angkasa Uni Soviet, Buran. Untuk mampu menjalankan misi operasi tersebut, An-225 dituntut memiliki spesifikasi tertentu, terutama kapasitas angkut yang besar. Proses rancang bangun berhasil mewujudkannya. Ukuran geometri badan pesawat maupun daya angkutnya memungkinkan pesawat tersebut terbang membawa pesawat Buran di atas fuselage atau badan pesawat. Kemampuan itu ditunjukkan An-225 dalam ekshibisi terbang di arena Paris Airshow tahun 1989.

Namun, perkembangan tak terduga menggiringi keberhasilan merancang bangun An-225. Desintegrasi negara Uni Soviet mengakibatkan program ruang angkasa Buran dihentikan tahun 1993. Terimbas oleh perkembangan tersebut, An-225 terpaksa di-grounded atau tidak dioperasikan. Lebih na'as lagi, kemudian, menjadi korban kanibalisasi komponen, mesinnya dilepas untuk dipasang di pesawat An-124. Kondisi demikian berlangsung selama hampir tujuh tahun, sebelum akhirnya pada tahun 2000 diambil keputusan baru Kembali dioperasikan

Pengoperasian kembali pesawat An-225 bermula saat Antonov Airlines membutuhkan sebuah pengangkut kargo berukuran besar. Kapasitas angkut An-225 dianggap memenuhi kebutuhan tersebut. Maka pesawat yang selama beberapa tahun hanya terparkir di hanggar itu di-upgrade, mesin dipasang kembali dan dilakukan modifikasi untuk menjadi pesawat kargo. Setelah menjalani proses sertifikasi ulang pada Mei 2001, izin operasi untuk An-225 pun dikeluarkan.

Operasi komersial pertama yang dijalani An-225 adalah terbang dari Stuttgard, Jerman, menuju Thumrait, Oman, pada Januari 2002. Dalam penerbangan tersebut diangkut makanan seberat 187,5 ton untuk pasukan militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Sukses menjalankan operasi terbang pertamanya An-225, diterbangkan untuk berbagai operasi lain. Bahkan menjadi pesawat andalan untuk mengangkut peralatan besar yang sepertinya tidak mungkin diangkut melalui udara, seperti lokomotif atau generator seberat 150 ton. Sejak tahun 2003 An-225 juga dioperasikan untuk menunjang misi kemanusiaan di Irak, antara lain dengan menerbangkan berbagai peralatan yang berat totalnya mencapai ratusan ton.

Padatnya jadwal operasi An-225 menjadi petunjuk urgensi keberadaan dan peran pesawat tersebut. Indikasi ini mendorong pihak Antonov Airlines berkeputusan untuk menyelesaikan pembuatan pesawat An-225 kedua yang terbengkalai seiring dengan terhentinya projek ruang angkasa Buran. Dijadwalkan penyempurnaan pesawat kedua An-225 itu akan selesai tahun 2008.

An-225 Cossack Specifications
Primary Function : Cargo
Contractor : Antonov
Crew : Six
Powerplant : Six Lotarev turbofans D-18T engines at 51,590 lb (23,370 kg) each

Dimensions
Length : 275 feet, 7 in (84.0m)
Wingspan : 290 feet (88.4m)
Height : 59 feet, 5 in (18.2m)
Weights
Empty : 250,5 tons
Maximum Takeoff : 1,322,750 lb (600,000kg)

Performance
Speed : 528 mph (850km/h)
Range : 8,310 nm (15,400km) -- with maximum fuel



sebagai perbandingan Antonov 225 , Airbus A 380, dan Boeing 747

Boeing 737 surveillance TNI AU

Posted by Yohanes on Senin, 25 April 2011 , under | komentar (0)




Tampilannya tak beda jauh dengan pesawat komersial biasa, akan tetapi kemampuannya sangat luar biasa. Pesawat Boeing-737 milik TNI Angkatan Udara ini mampu mengamati seluruh gerak-gerik di atas perairan Indonesia yang luasnya mencapai 8,5 juta kilometer persegi.

Sesuai dengan tugasnya, tiga pesawat Boeing-737 Maritime Patrol yang berbasis di Skadron Udara 5 Pangkalan Udara (Lanud) Hasanuddin, Makassar, ini setiap hari melakukan pengamatan udara dan maritim (air and maritime surveillance) di seluruh wilayah perairan Indonesia. Secara bergantian ketiganya mengamati secara sistematik ruang udara, permukaan daratan, maupun perairan, lokasi, atau tempat, sekelompok manusia atau obyek-obyek lain, baik secara visual, aural, fotografis, elektronis, maupun dengan cara lain.Skadron 5 yang berpangkalan di Lanud hasanuddin, Makassar, menerima tiga Boeing B737-200 2X9 Surveiller untuk menggantikan Grumman UF-1 Albatross.

Pesawat berjulukan Camar Emas ini diberi registrasi AI-7301, AI-7302, dan AI-7303. Pengiriman pesawat yang dipesan April 1981 ini dilakukan secara maraton mulai dari 20 Mei 1982, 30 Juni 1983, dan 3 Oktober 1983. dengan kekuatan tiga pesawat, berarti tiap pesawat harus melakukan pengintaian sepertiga wilayah Indonesia.Dari segi performa, Camar Emas tidak kalah garang dengan pesawat pengintai yang telah terkenal seperti E-8-J-STARS (Joint Surveillance and Target Attack Radar System), E-3 Sentry AWACS, Bariev A-50 Mainstay AWACS, DC-8-72F SARIGUE NG, P-3C Orion atau radar terbang masa datang Australia B737-700 Wedgetail –versi New Generation B737 yang dikonversi untuk kepentingan intelijen. Tidak percaya? Intip saja alat pengendus yang diusung.

Dihidungnya ada radar double agent AN/APS-504 (V)5. selain berfungsi konvensional, radar ini bisa diset mendeteksi sasaran di permukaan atau di udara. Jarak pindainya luar biasa, 256 Nm (Nano Meter)
Navigasi dan komunikasinya juga kompak. Saat ini B737 dilengkapi sistem navigasi INS LTN-72R terintegrasi dengan GPS.

Karena memainkan peran penting dalam air intelligence, komunikasi tidak saja masuk kategori wajib, tapi juga harus mempunyai tingkat aksesbilitas tinggi. Untuk B737, saluran telepon bisa terhubung langsung dengan komando pusat. Tampilan instrumen yang menawan (pilot color high resolution display), makin mempercanggih suasa kokpit.


Tugas pokok Skadron 5 adalah, melakukan pengintaian udara strategis dan pengawasan maupun pengamanan terhadap semua objek bergerak di permukaan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) dan jalur lalu lintas damai. Informasi yang dihasilkan B737 sangat penting dalam masa perang dan damai. Kegiatan eksploitasi informasi dalam hubungannya dengan air power terdiri dari tiga hal. Yaitu informasi, reconnaissance, dan surveillace. Hubungan ketiga faktor ini dengan intelijen sangat erat.

Maritime Patrol ini dilengkapi peralatan SLAMMR (Side Looking Airborne Multi Mission Radar), suatu alat sensor dengan daya deteksi yang sangat kuat pada suatu daerah yang sangat luas. Dengan SLAMMR, Boing-737 ini mampu mendeteksi wilayah perairan seluas 85.000 mil persegi per jam. Di tambah lagi peralatan navigasi Internal Navigation System dan Omega Navigation System serta peralatan komunikasi modern.

Tiga pesawat Boeing-737 itu berbasis di Skadron Udara 5 Lanud Hasanuddin, Makassar, sejak 1 Juni 1982. Tahun 1993, ketiganya menjalani up-grade di tempat kelahirannya di Seattle, Amerika Serikat. Sehingga mengalami peningkatan kemampuan pada SLAMMR Real Time, Infra Red, Search Radar, serta sistem navigasi dan komunikasi yang diintegrasikan dengan DPDS (Data Processing Display System).

Dalam melaksanakan tugasnya, Maritime Patrol didukung 64 kru, yang terdiri dari dua orang instruktur/kapten pilot, 12 co-pilot, 16 juru mesin udara (engineering), lima juru muat udara (load master), 10 operator console, 14 observer, tiga juru foto udara, dan dua flight surgeon.

Tanggal 14 September 1993, pesawat Boeing 737 AI-7301 kembali dari AS setelah mengalami peningkatan kemampuan dengan modifikasi. Adapun kemampuan yang ditingkatkan adalah Slammr Real Time, Infra Red Detection System (IRDS), Search Radar, sistem navigasi dan komunikasi yang terintegrasi dengan DPDS (Data Proccessing Display System). Sedangkan untuk pesawat AI-7303 modifikasi dilakukan di IPTN (sekarang PT DI) Bandung. Terakhir kita melihat kiprah pesawat ini saat turut mencari lokasi jatuhnya pesawat Adam Air di laut Sulawesi


Spesifikasi Boeing 737-200 2X9 Surveiller

Dimensions
Wingspan 28.35 m (93 ft 01 in)
Tail Height 11.23 m (36 ft 84 in)
Overall Length 30.53 m (100 ft 16in)
Cabin Width (floor level) 3.3 m ( 10 ft 8 in)
Cabin Length 28.2 m ( 92 ft 8 in) 
Design Weights
Maximum Taxi Weight 53 297 kg (117 498 lbs)
Maximum Landing Weight 47 627 kg (104 998 lbs)
Maximum Zero Fuel Weight 43 090 kg (94 996 lbs)
Operating Empty Weight 29 400 kg (64 815 lbs)

Design Weights
Power P & W JT8D-17A
Cruising Speed 760 km/h ( 410 kts)
Cruising Altitude 10 668 m (35 000 ft)
Range 2 414 km (1 500 miles)
Passenger Capacity 107
Fuel Capacity Volume 19 544 l (15 635 kg)